UNGGUL KREATIVE INOVATIF RELIGIUS DAN ANDAL

UNGGUL KREATIVE INOVATIF RELIGIUS DAN ANDAL (UKIRAN)

Sabtu, 21 Mei 2011

Artikel 3 Kompetensi Sosial dan Kepribadian Guru


KOMPETENSI SOSIAL DAN KEPRIBADIAN GURU
  
Oleh: A. Fatah
1.  Pendahuluan
Guru profesional memerlukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi; antara lain menyangkut dimilikinya kompetensi yang diperlukan. Pasal 8 UU No. 14 Tahun 2005 atau yang lebih dikenal dengan UU Guru dan Dosen secara eksplisit menyebutkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Mengacu substansi Pasal 8 No. 14 Tahun 2005 tersebut di atas jelas sekali bahwa kepemilikan kompetensi itu hukumnya wajib; artinya bagi guru yang tidak mampu memiliki kompetensi akan gugur keguruannya. Khusus tentang kompetensi ini dijelaskan pada Pasal 10 ayat (1)yang menyebutkan kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sementara itu pada ayat (2) pasal yang sama disebutkan ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi guru sebagaimana dimaksud akan diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP).
Kompetensi pedagogik mengharuskan guru memiliki jiwa pendidik yang mendarah daging. Artinya, nilai-nilai pendidikan tidak sekadar dihafal secara teoretis, tetapi telah menjadi bagian dari perilaku dirinya. Begitu pula dengan kompetensi kepribadian, mengisyaratkan adanya kepemilikan pribadi yang paripurna (insan kamil). Dengan demikian, diharapkan pribadi guru menjadi personifikasi nilai-nilai, bukan sekadar kamuflase, sehingga menjadi contoh nyata yang dapat diteladani siswa. Kompetensi sosial tentu bermakna lebih luas lagi. Guru dituntut mampu berperan maksimal dan ideal dalam berbagai tatanan pergaulan dengan berbagai kalangan dan variasi pandangan. Kompetensi profesional mengarah pada bidang profesi sehingga relatif mudah mengukurnya mengingat indikatornya relatif jelas, yakni diukur dari kadar kemampuan menyangkut bidang profesinya. Misalnya, guru Bahasa Inggris harus mampu membuat desain pembelajaran bahasa Inggris, mengajarkannya, mengadakan pengamatan proses, dan mengevaluasinya.
Pada kesempatan ini penulis mencoba mengira-ira apa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian dan sosial, indikator dan cara mengukurnya
2.      Pembahasan
PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi guru) membagi kompetensi sosial dan kepribadian guru menjadi 10 aspek yakni:1) disiplin, 2) penampilan, 3) santun, 4) kerjasama, 5) komunikatif, 6) komitmen, 7) keteladanan, 8) semangat, 9) empati dan 10) tanggung jawab. Sedangkan menurut UU No. 20/2003; UU No. 14/2005 Tentang guru dan dosen; PP No. 18/2007 Tentang sertifikasi Guru dalam Jabatan membagi menjadi 14 aspek yakni:1) Akhlak mulia, 2) arif dan bijak, 3) mantap, 4) wibawa, 5) stabil, 6) jujur, 7) teladan, 8) obyektif, 9) pengembangan diri, 10) terampil dalam komunikasi, 11) faham TI, 12) gaul, 13) santun, dan 14) kooperatif
Penulis mencoba meringkas kompetensi tersebut di atas dengan mendefiniskan bahwa Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.
Dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai kompetensi sosial dan kepribadian, seorang guru harus memiliki persyaratan sikap sebagai berikut: 1)  Berakhlak mulia 2)  Disiplin 3) Teladan 4) Komunikatif  dan 5) Dewasa

1)      Berakhlak mulia
Tugas seorang guru tidak sekedar memenuhi kewajiban mengajar. Atau lebih mementingkan bagaimana si anak lulus dalam menghadapi ujian. Lebih dari itu, guru harus membentuk anak didik menjadi manusia yang cerdas dan taqwa. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diperlukan guru yang mempunyai akhlak mulia yakni guru yang  harus memiliki kepribadian sebagai insan kamil (manusia yang sempurna) yang secara konkret dapat dijadikan acuan oleh siswa dalam menemukan contoh pribadi yang memiliki religiusitas, moral, dan etik. Personifikasi guru yang demikian diharapkan akan berdampak pada adanya jalinan pikir, rasa, dan hati. Lebih lanjut, pendidikan tidak sekadar dimaknai sebagai transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pemindahan rasa dan jalinan hati.
Seorang guru yang berakhlak mulia memancarkan suatu kewibawaan dan tingkah laku yang arif bijaksana sebagai bekal dalam menggembleng para siswa agar kelak menjadi sosok yang arif, tangguh, kaya ilmu, memiliki kepekaan moral dan sosial yang tinggi.
Seorang guru yang mempunyai kewibawaan mudah ditaati terutama diteladani. Tanpa kewibawaan seorang guru bakal menjadi permainan anak-anak. Wibawa di sini bukan dalam arti bahwa ia disegani karena tegas dan disiplin, tetapi juga karena mutu pelajaran yang diberikannya, serta mutu seluruh kepribadiannya yang memberi warna tertentu kepada profesinya sebagai guru, sebagai orang yang patut ditaati dan diteladani.
Selain itu guru harus jujur. Dalam arti bahwa ia mengajarkan hal-hal yang benar kepada murid-muridnya serta berusaha untuk tidak menipu mereka dengan pengetahuan dan kepandaiannya. Termasuk dalam kejujuran seorang guru ialah keterbukaannya kepada para murid tentang sebab keterlambatan dan alasan mengapa ia tidak masuk kelas. Dan yang paling menonjol dalam tingkah laku seorang guru ialah kebijaksanaannya. Bagaimana ia mengambil keputusan dan mengambil sikap dalam situasi-situasi tertentu sangat mempengaruhi sikap dan cara pikir anak didiknya kemudian. Guru-guru yang tidak mempedulikan kebijaksanaan ini akan sangat merugikan karya pendidikan itu sendiri. Di mata masyarakat, kehadiran sang guru begitu tinggi citranya, bermartabat, terhormat, dan memiliki legitimasi sosial yang mengagumkan. Masyarakat benar-benar respek terhadapya. Apresiasi masyarakat terhadap profesi guru menjadi sumber informasi, sumber dan sumber inspirasi masyarakat dalam mengatasi masalah keseharian.
Seorang guru yang berakhlak mulia akan menjalankan perintah-perintah Tuhan dan menjauhi larangannya, mengutamakan kejujuran dan obyektif dalam penilaian dan muaranya guru tersebut menjadi teladan bagi murid-muridnya maupun masyarakat lingkungan sekitarnya.
Uraian tersbut di atas dapat disimpulkan guru yang berakhlak mulia mempunyai indikator:
a.       Taat dalam menjalankan perintah agama
b.      Jujur menyampaikan sesuatu apa adanya.
c.       Suka menolong (empati)
2)  Disiplin
Disiplin pada hakikatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk tidak melakukan sesuatu tindakan yang tidak sesuai dan bertentangan dengan sesuatu yang telah ditetapkan dan melakukan sesuatu yang mendukung dan melindungi sesuatu yang telah ditetapkan. Dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan disiplin diri, disiplin belajar dan disiplin kerja. Disiplin kerja merupakan kemampuan seseorang untuk secara teratur, tekun secara terus-menerus dan bekerja sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dengan tidak melanggar aturan-aturan yang sudah ditetapkan.
Disiplin kerja guru adalah sikap pribadi guru dalam hal ketertiban dan keteraturan diri yang dimiliki oleh guru dalam bekerja di sekolah tanpa ada pelanggaran-pelanggaran yang merugikan dirinya, orang lain, atau lingkungannya. Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja, dan mendukung terwujudnya tujuan organisasi, karyawan dan masyarakat. Dengan demikian disiplin merupakan hal yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kinerja organisasi. Dengan kata lain ketidakdisplinan individu dapat merusak kinerja organisasi.
Disiplin kerja guru merupakan tindakan seseorang untuk mematuhi peraturan-peraturan yang telah disepakati bersama. Tindakan ini bila dilakukan secara benar dan terus-menerus akan menjadi kebiasaan yang tertanam dalam perilaku guru dan akan membantu tercapainya tujuan kerja yang telah ditentukan.
Berdasarkan uraian di atas maka disiplin guru mempunyai indikator sebagai berikut:
 (a) Disiplin terhadap tugas kedinasan yang meliputi : mentaati peraturan kerja di sekolah: menyiapkan kelengkapan mengajar, dan melaksanakan tugas-tugas pokok.
(b) Disiplin terhadap waktu yang meliputi: menepati waktu tugas, memanfaatkan waktu dengan baik, dan menyelesaikan tugas tepat waktu.
(c) Disiplin terhadap suasana kerja yang meliputi: memanfaatkan lingkungan sekolah, menjalin hubungan yang baik, dan menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
(d) Disiplin di dalam melayani masyarakat yang meliputi: melayani peserta didik, melayani orang tua siswa, dan melayani masyarakat sekitar;
(e) Disiplin terhadap sikap dan tingkah laku yang meliputi, memperhatikan sikap, memperhatikan tingkah laku, dan memperhatikan harga diri.
3)      Teladan
Suksesnya proses pendidikan itu sendiri sesungguhnya adalah kalau guru dan warga sekolah mampu mengusung keteladan dalam setiap langkah dan kebijakannya. Sekolah adalah galeri keteladanan. Seorang guru yang berkepribadian baik dituntut untuk untuk menjadi teladan bagi murid-muridnya maupun bagi masyarakat sekitarnya. Keteladan guru dilihat secara fisik diantaranya dari ketepatan waktu masuk dan keluar kelas, cara berpakaian dan berpenampilan layaknya seorang guru, cara berbaris ketika upacara bendera, cara berhias dan memakai perhiasan yang berlebihan.
Keteladanan secara mental diantaranya ucapan minta maaf kepada siswanya karena kemarin tidak masuk, baik sebab sakit atau pun ada tugas luar, ucapan terimakasih kepada siswanya karena ditolong diambilkan air minum atau pesanan makanan di warung, ucapan selamat kepada siswanya yang mendapat prestasi atau kemenangan atas suatu kegiatan, guru yang meluangkan waktu menjenguk siswanya atau orang tua siswa yang lama terbaring sakit, atau menyediakan waktu dievaluasi oleh siswanya melalui potongan kertas yang disediakan.
Memulai dari keteladanan hal-hal yang sederhana tentu akan menumbuhkan kepercayaan untuk keteladanan hal-hal yang kompleks. Mampu mengerjakan terlebih dahulu untuk hal yang akan ditugaskan kepada anak didik adalah contoh keteladanan yang lebih kompleks. Dari uraian tersebut indikator keteladan guru adalah:
a. Menjadi teladan bagi sejawat dan peserta didik dalam tutur kata.
b. Menjadi teladan bagi sejawat dan peserta didik dalam berpakaian
c. Menjadi teladan bagi sejawat dan peserta didik dalam berperilaku.
4) Komunikatif
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan tehnologi. Guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran siswa. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang berkembang dan berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah siswanya.
Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari siswa, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus.
Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pembelajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitian guru tidak terjebak pada praktek pembelajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para siswanya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pembelajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.
Gambaran tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa indikator guru yang komunikatif adalah:
a.       Dapat bekerja sama dengan teman sejawat antar sekolah, serta kerja sama dengan komunitas lingkungannya.
b.      Dapat memanfaatkan semaksimal mungkin sumber-sumber belajar di luar sekolah
c.       Dapat berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
d.      Dapat menyampaikan ide-idenya dengan bahasa yang baik dan dapat dipahami oleh sasaran
e.       Dapat menguasai iptek dan IT




5)      Dewasa
Guru merupakan profesi yang berdedikasi di hati dan pikiran murid. Guru yang benar-benar menghayati profesinya, ia bekerja bukan karena pemasukannya, tapi karena pengeluarannya, yaitu setiap hari ia berupaya mengenali, memahami dan mendidik anak dalam perbedaan dengan motivasi baru, ide baru dan cara pandang baru hingga anak bertumbuhkembang secara sehat, dewasa dalam berpikir dan sukses dalam perjalanan hidupnya.
Dalam banyak hal guru adalah orang dewasa. Kehadirannya entah berada di belakang, di tengah, atau di depan murid bukan untuk mendapatkan pengakuan dan atau penghargaan, tetapi memberi pencerahan, pengharapan dan kehidupan kepada murid agar berkualitas sebagai syarat untuk mencapai keunggulan. Untuk menjadi dewasa seorang guru dituntut memiliki sikap yang mantap, stabil (tidak mudah goyah), semangat, bangga terhadap profesi, konsisten dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas. Idealisme, semangat, empati dan kinerja tinggi disertai rasa tanggung jawab mesti menjadi ciri guru yang berkepribadian. Dengan kompetensi kepribadian tersebut, guru akan tampil matang sebagai pembimbing (councelor),  pelatih (coach) dan manejer pembelajaran ( learning manager) yang mampu berinteraksi dengan siswa dalam proses transfer pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai yang baik. Semangat untuk tetap belajar (bukan hanya mengajar) akan membantu guru untuk meng-upgrade pengetahuannya, sehingga dapat menyiasati kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peluang pemanfaatannya untuk memajukan proses belajar mengajar di kelas.
Uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa indikator guru yang dewasa adalah:
a.       Bertanggung jawab (sanggup) menyelesaikan tugas sesuai dengan
      ketentuan
b.      Semangat dalam melaksanakan tugas tinggi.
c.       Bangga terhadap profesi sebagai guru
d.      konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma
3.      Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tentang kompetensi kepribadian dan sosial guru tersebut di atas disimpulkan bahwa guru dituntut untuk 1)  Berakhlak mulia 2)  Disiplin 3) Teladan 4) Komunikatif  dan 5) Dewasa.
Berakhlak mulia mempunyai indikator: a. taat dalam menjalankan perintah agama dan b) jujur menyampaikan sesuatu apa adanya. Disiplin guru mempunyai indikator sebagai berikut: (a) disiplin terhadap tugas kedinasan (b) disiplin terhadap waktu (c) disiplin terhadap suasana kerja (d) disiplin di dalam melayani masyarakat dan (e) disiplin terhadap sikap dan tingkah laku. 3) Indikator dalam keteladan guru adalah: a. menjadi teladan bagi sejawat dan peserta didik dalam tutur kata b. menjadi teladan bagi sejawat dan peserta didik dalam berpakaian dan c. menjadi teladan bagi sejawat dan peserta didik dalam berperilaku. Indikator guru yang komunikatif adalah: a. dapat bekerja sama dengan teman sejawat antar sekolah, serta kerja sama dengan komunitas lingkungannya. b. dapat memanfaatkan semaksimal mungkin sumber-sumber belajar di luar sekolah  c. dapat berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar d. dapat menyampaikan ide-idenya dengan bahasa yang baik dan dapat dipahami oleh sasaran dan e. dapat menguasai iptek dan IT. Sedangkan indikator guru yang dewasa adalah: a. bertanggung jawab (sanggup) menyelesaikan tugas sesuai dengan ketentuan dan b. semangat dalam melaksanakan tugas tinggi, c. bangga terhadap profesi sebagai guru dan d. konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma

Artikel 2 Kepribadian Guru yang Sehat dan Tidak Sehat


KEPRIBADIAN GURU YANG SEHAT DAN TIDAK SEHAT

I.   Pendahuluan
Dalam upaya meningkatan mutu pendidikan, kompetensi guru merupakan salah satu faktor yang amat penting. Louise Moqvist (dalam Sudradjat, 2007) mengemukakan bahwa “competency has been defined in the light of actual circumstances relating to the individual and work.. Sementara itu, dari Trainning Agency sebagaimana disampaikan Len Holmes (dalam Sudradjat, 2007) , menyebutkan bahwa : ” A competence is a description of something which a person who works in a given occupational area should be able to do. It is a description of an action, behaviour or outcome which a person should be able to demonstrate.”
Dari kedua pendapat di atas kita dapat disimpulkan bahwa kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seharusnya dapat ditampilkan atau ditunjukkan.
Agar dapat melakukan sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.
Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka dalam hal ini kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan.
Sementara itu, dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu :
(1)   Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik.
(2)   Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian.
(3)   Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat.
(4)   Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam.
Tulisan ini akan membatasi pada salah satu kompetensi tersebut di atas yakni kompetensi kepribadian guru yang mencakup pandangan struktural tentang kepribadian, kepribadian yang sehat dan yang terganggu  serta ciri-ciri nya. Dengan harapan kiranya tulisan ini dapat dijadikan sebagai bahan refleksi bagi para guru maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan pendidikan.
II.  PEMBAHASAN
2.1 Pandangan Struktural tentang Kepribadian
Pandangan struktural tentang kepribadian menurut Teori Psiko dinamis Freud (dalam Arief, 2006:17-21) mengatakan bahwa struktur kepribadian terdiri atas tiga komponen, yaitu: Id, Ego dan Superego.
2.1.1 Id
Id adalah komponen kepribadian yang paling primitive. Id sendiri terletak di ketidaksadaran, sehingga tidak bersentuhan langsung dengan realitas. Id adalah bagian dari kepribadian yang mengubah insting-insting biologis rmenjadi fantasi yaitu representasi mental dan insting. Dari hasil kerja Id muncul berbagai hasrat dan dorongan (drive) dasar yang kemudian menggerakkan tingkah laku. Dua dasar yang utama adalah dorongan seks dan dorongan agresi.
Struktur kepribadian yang bertugas mensublimasikan dan mengarahkan berbagai dorongan yang dihasilkan Id, agar tidak bertentangan dengan realitas adalah ego.



2.1.2 Ego
Ego adalah struktur kepribadian yang bersentuhan langsung dengan realitas. Fungsi utama adalah mengatur interaksi antara dunia internal individu dengan realitas eksternal. Ia harus menjembatani sedemikian rupa agar interaksi antara realitas internal dan realitas eksternal berlangsung dengan mulus.
2.1.2 Super Ego
Superego adalah struktur kepribadian (bagian dari dunia internal kita) yang mewakili nilai-nilai realitas eksternal. Fungsi superego adalah mendorong individu untuk mematuhi nilai-nilai yang berlaku di realitas eksternal tersebut , sehingga menghindari konflik antara individu dengan realitas eksternal.
2.1.4 Dinamika antara Id, Ego dan Super Ego
Dengan terbentuknya ketiga struktur Id, Ego dan Super Ego kepribadian memiliki perlengkapan yang lengkap untuk menjalankan fungsinya untuk menjaga dialektika antara diri dengan realitas eksternal.
2.2 Kepribadian yang Sehat
Bilamana ada dinamika yang harmonis di antara ketiga struktur kepribadian ini, maka dapat bekerja dengan baik, sehingga dikatakan bahwa kepribadian seperti itu adalah kepribadian yang sehat. Individu akan mampu mencapai keinginan-keinginannya secara memuaskan., dengan konflik yang minimal. Dan dalam kepribadian yang sehat, akan terjadi sublimasi terus-menerus sehingga orang akan menikmati estetika, budaya dan bahkan semakin mencari kenikmatan rohani.
2.3 Kepribadian yang Tidak Sehat/Terganggu
Sebaliknya dari kondisi di atas, bila dinamika di antara ketiga struktur kepribadian ini tidak harmonis, dan banyak konflik di antara ketiganya, maka kepribadian akan sulit bekerja dengan baik. Kepribadian akan mengalami gangguan. Dalam kepribadian yang terganggu, sublimasi sulit terjadi, sebaliknya yang terjadi adalah regresi yaitu kemunduran fungsi kepribadian. Misalnya seseorang yang sudah umurnya, menanggapi berbagai situasi dalam hidupnya dengan cara-cara yang kekanak-kanakan. Cara-cara tersebut tentu saja tidak efektif.
2.4 Ciri-ciri Kepribadian Guru yang Sehat dan Tidak Sehat
Demikian pula pada individu guru memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri, mulai dari yang menunjukkan kepribadian yang sehat atau justru yang tidak sehat. Dalam hal ini, Elizabeth (Syamsu Yusuf dalam Sudradjat, 2007) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat dan tidak sehat, sebagai berikut :
1) Kepribadian yang sehat memiliki ciri-ciri : mampu menilai diri sendiri secara realisitik, mampu menilai situasi secara realistic, mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistic, menerima tanggung jawab, kemandirian, dapat mengontrol emosi, berorientasi tujuan, berorientasi keluar (ekstrovert) dan penerimaan sosial
2) Kepribadian yang tidak  sehat memiliki ciri-ciri : mudah marah, menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan, sering merasa tertekan (stress atau depresi), bersikap kejam, ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang, kebiasaan berbohong, hiperaktif, bersikap memusuhi semua bentuk otoritas, senang mngkritik/ mencemooh, sulit tidur, kurang rasa tanggung jawab, sering mengalami pusing, kurang  memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama, pesimis dan kurang bergairah
II.  KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas dapat kita pahami bahwa ketika seorang guru berhadapan dengan peserta didiknya di kelas,  dia dihadapkan dengan realitas  dunia anak. Dengan demikian diperlukan pendidikan khusus bagi para guru, agar bisa bersikap profesional seperti yang diamanahkan dalam peraturan pemerintah tersebut.
Dalam kaitan ini, ada yang disebut dengan pendidikan soft skill yang bertumpu pada pembinaan mental (stabil mentalnya, dewasa, bijaksana, berwibawa, berakhlak mulia, menjadi teladan bagi peserta didik, dan peka terhadap realitas lingkungannya). Pendidikan soft skill menjadi kebutuhan penting pendidikan nasional. Guru akan menjadi teladan bagi siswa, yang meliputi bagaimana guru terampil dalam menerapkan manajemen diri (berkomunikasi, memimpin, membina hubungan dengan orang lain, dan mengembangkan diri).

Sumber :
Sudrajat, Akhmad. 2007. Kepribadian Individu,Gangguan dan Terapinya. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/konseling/ kepribadian-r/). 5 Januari 2006.
Arief, Iman Setiadi. 2006. Dinamika Kepribadian. PT. Refika Aditama:Bandung.
…2006. Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,. Jakarta:Depdiknas.

Artikel 1 Menyoal Problematika Pend. di Indonesia


Menyoal Problematika Pendidikan di Indonesia

Oleh : A. Fatah
1. Pendahuluan
KUALITAS pendidikan kita sampai sekarang masih memprihatinkan. Seperti sektor ekonomi yang terpuruk, dunia pendidikan pun sedang menghadapi krisis berat. Kondisi itu terlihat dari hasil ujian akhir nasional tahun 2004-2005 yang mengejutkan banyak orang. Puluhan ribu murid tingkat SMP dan SMA di seluruh Indonesia tidak lulus ujian. Di Yogyakarta yang nota bene sebagai kota pelajar, ada 13 SMA yang persentase kelulusan muridnya nol persen. Bahkan di NTT, Papua, Bengkulu, Sulteng, Kalteng dan NAD, angka ketidaklulusan siswa SMP peserta UAN 2005, sekitar 50 %. Sungguh ironis dan lengkaplah derita kita.
Rendahnya kualitas pendidikan itu selain dapat dilihat dari hasil ujian nasional, menurut International Education Achievement (IEA), bisa dilihat dari kemampuan membaca untuk tingkat SD dan matematika bagi siswa SLTP. Untuk membaca, Indonesia termasuk urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sedang matematika kita masuk urutan ke-39 dari 42 negara. Untuk studi IPA, kita masuk urutan ke-40 dari 42 negara peserta.
Selain mutu pendidikan yang rendah seperti tersebut di atas, problematika dunia pendidikan di Indonesia seakan tiada habisnya. Ibarat benang kusut, sejumlah permasalahan klasik masih saja melingkupi dunia pendidikan kita. Tidak hanya pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan kualitas dan fasilitas, namun juga rendahnya tingkat relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.
2. Pembahasan
Pada kesempatan ini penulis mencoba menyajikan beberapa problematik pendidikan di Indonesia dan solusinya yang mudah-mudahan menjadi wacana kita untuk dalam memahami dunia pendidikan kita.
2.1.  Kurikulum yang Masih Kaku.
Sistem kurikulum Indonesia masih terlalu rigid (kaku), masih belum bisa menyesuaikan dengan apa yang mau dihasilkan dari sistem pendidikan itu sendiri terutama pada jenjang higher education sector seperti tingkat SMA dan Universitas.( Syamsul Arief Rakhmadani:2007) Kemudian, sistem kurikulum terutama di sekolah negeri masih belum bisa melengkapi siswa dengan skill yang memadai as a workforce." "Tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi dari guru/dosen yang harus ditingkatkan sebagai insentif dalam proses mengajar serta semakin banyak sekolah yang mempunyai fasilitas yang memadai tetapi masih terlalu besar poverty gap antara sekolah di kota dan di desa." Prioritas yang paling mendesak dilakukan pemerintah saat ini adalah perbaikan gaji, perbaikan kurikulum, perbaikan peraturan/regulasi, dan pendistribusian subsidi pemerintah yang adil dan menyeluruh. Selain itu kemampuan guru dan dosen sendiri harus ditingkatkan baik melalui intensive training dan self-learning seperti research, menulis di jurnal dll. Seharusnya hal-hal seperti inilah yang harus ditingkatkan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu para pendidik itu sendiri. Good educators mean good education dan diharapkan akan menghasilkan para lulusan yang bermutu dan siap kerja.
2.2.  Pendidikan Masih Mahal
Ahmad Isnaini (2007) mengatakan bahwa : “Pendidikan harusnya bisa lebih murah, terutama untuk pendidikan dasar, agar semua orang punya kesempatan untuk belajar, karena itu adalah hak setiap warga negara.” Pemerintah dalam hal ini sebagai pemegang kebijakan harusnya dapat memberikan fasilitas sebesar-besarnya bagi dunia pendidikan, misalnya bisa dengan subsidi (katanya sudah ada), meningkatkan taraf hidup guru-guru sebagai mediator utama dalam pendidikan yang berhubungan langsung dengan anak didik."
2.3.  Kurang Konsisten dalam Pelaksanaan Pendidikan
Pendidikan di Indonesia itu sangat baik bila kita lihat konsepnya, dan juga bila kita baca pada Undang-undang Pendidikan. Yang justru sulit dan repot adalah masalah pelaksanaanya” (DR.H.Arief Rahman,MPd). Misalnya, tujuan pendidikan itu tidak semuanya diukur menjadi indikator kesuksesannya. Penulis  mengambil  contoh, pada salah satu tujuan pendidikan itu dikatakan bahwa kecerdasan spiritual itu harus dikembangkan, bahkan hal itulah yang menjadi dasar dari semuanya. Tetapi untuk naik kelas atau lulus ujian, kecerdasan spiritual itu tidak menjadi penentu, sehingga salah satu indikator dalam tujuan pendidikan yaitu Kecerdasan Spiritual tadi tidak dihitung. Yang dihitung malah, Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dengan rata-rata 5,01.
2.4.  Mutu Guru Rendah
Untuk bisa meningkatkan mutu guru. Ksejahteraan para guru harus diperhatikan dan diperbaiki, akademisnya juga harus diperbaiki, pola mengajarnya juga harus diperbaiki.
2.5.  Pendidikan Belum Merata
Belum semua anak-anak di Indonesia ini sekolah, bukan karena mereka tidak mampu. Namun kadang-kadang ada yang mampu tetapi kulturnya tidak menyuruh. Juga adanya ketimpangan di dalam kesetaraan 'Gender' yang sangat kuat sekali. Lalu mata pelajaran yang ada sebetulnya harus mendekatkan diri kita kepada Tuhan, tetapi kenyataannya tidak. Semua mata pelajaran ujung-ujungnya hanya pengetahuan dunia saja, di mana cara pengantarnya tidak mendekatkan orang kepada pencipta-Nya atau ilmu akhirat.Saya beri contoh, mata pelajaran Biologi, Kimia, dan pengetahuan alam lainnya seharusnya dapat mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta. Dan hal itu tidak terimplementasikan dengan baik.
2.6  Tanggung Jawab Masyarakat Terhadap Masyarakat yang Masih Rendah
Bangsa dan negara ini juga mempunyai andil dalam kesalahan besar terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Maksudnya adalah seolah-olah semua masalah besar pada pendidikan dibebankan atau ditujukan kepada Pemerintah saja, padahal itu adalah tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia juga atau tanggung jawab kita bersama. Saya beri contoh, jika ada sesuatu yg tidak beres dalam tatanan dunia pendidikan seharusnya kita tanyakan dulu kepada diri kita sendiri tentang permasalahan itu, dan kita berusaha ikut berpartisipasi positif dan aktif di dalam memajukan sistem pendidikan di Indonesia. Jangan hanya menyalahkan pemerintah saja. Dalam hal ini pemerintah itu hanya memberikan rambu-rambu pendidikan yang fleksibel yang dapat kita rembukan atau diskusikan bersama untuk hal perubahan atau penambahan di dalam rambu2 tersebut".
3. Penutup
Demikian beberapa problematik  dalam dunia pendidikan di Indonesia yang dapat penulis sajikan. Semakin terpuruknya peringkat SDM Indonesia, tak perlu hanya kita sesali, melainkan menjadikannya sebagai motivasi untuk bangkit dari keterpurukan. Jika kondisi itu mau diubah mulailah dari menerapkan konsep yang berpijak pada akar masalah.
Sebagai penutup penulis menyajikan beberapa konsep rumus meningkatkan mutu pendidikan yang terabaikan. Diantaranya adalah :
3.1 Berikan Penghargaan
Mc. Keena & Beech (1995 : 161) dalam bukunya “Manajemen Sumber Daya Manusia” mengatakan, penghargaan diberikan untuk menarik dan mempertahankan SDM karena diperlukan untuk mencapai saran-saran organisasi. Staf (guru) akan termotivasi jika diberikan penghargaan ekstrinsik (gaji, tunjangan, bonus dan komisi) maupun penghargaan instrinsik (pujian, tantangan, pengakuan, tanggung jawab, kesempatan dan pengembangan karir).
Guru sebagai manusia yang diharapkan sebagai ujung tombak meningkatkan mutu berhasrat mengangkat harkat dan martabatnya. Jasanya yang besar dalam dunia pendidikan pantas untuk mendapatkan penghargaan intrinsik dan ekstrinsik agar tidak termarjinalkan dalam kehidupan masyarakat.
3.2 Tingkatkan Profesionalisme
Kecanggihan kurikulum dan panduan manajemen sekolah tidak akan berarti jika tidak ditangani oleh guru profesional. Karena itu tuntutan terhadap profesinalisme guru yang sering dilontarkan masyarakat dunia usaha/industri, legislatif, dan pemerintah adalah hal yang wajar untuk disikapi secara arif dan bijaksana.
Konsep tentang guru profesional ini selalu dikaitkan dengan pengetahuan tentang wawasan dan kebijakan pendidikan, teori belajar dan pembelajaran, penelitian pendidikan (tindakan kelas), evaluasi pembelajaran, kepemimpinan pendidikan, manajemen pengelolaan kelas/sekolah, serta tekhnologi informasi dan komunikasi. Sebagian besar tentang indikator itu sudah diperoleh di LPTK antara lain IKIP, FKIP, dan STKIP non-refreshing.
3.3 Sediakan Sarana dan Prasarana  
Dengan diberlakukannya kurikulum 2006 (KTSP), kini guru lebih dituntut untuk mengkontekstualkan pembelajarannya dengan dunia nyata, atau minimal siswa mendapat gambaran miniatur tentang dunia nyata. Harapan itu tidak mungkin tercapai tanpa bantuan alat-alat pembelajaran (sarana dan prasarana pendidikan).
Menyikapi keadaan yang demikian sulit, apalagi kondisi negara yang kian kritis, solusi yang ditawarkan adalah manfaatkan seluruh potensi sumber daya sekolah dan masyarkat sekitar, termasuk memberdayakan dewan pendidikan dan komite sekolah. Mudah-mudahan dengan sistem anggaran pendidikan yang mengacu pada UU Sisdiknas No. 20/2003 pasal 46 dan 49 permasalahan ini dapat diatasi dengan membangun kebersamaan dan kepercayaan antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
3.4 Berantas Korupsi  
Menurut laporan BPK tahun 2003 lalu, Depdiknas merupakan lembaga pemerintah terkorup kedua setelah Departemen Agama. Kemudian Laporan ICW menyebutkan bahwa korupsi dalam dunia pendidikan dilakukan secara bersama-sama (Amin Rais menyebutnya korupsi berjamaah) dalam berbagai jenjang mulai tingkat sekolah, dinas, sampai departemen. Pelakunya mulai dari guru, kepala sekolah, kepala dinas, dan seterusnya masuk dalam jaringan korupsi. Sekolah yang diharapkan menjadi benteng pertahanan yang menjunjung nilai-nilai kejujuran justru mempertotonkan praktik korupsi kepada peserta didik.
Konsep ini bukanlah harga mati untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kajian-kajian lainnya mungkin dapat melengkapi solusi yang ditawarkan. Satu hal yang paling mendasar adalah mencari solusi berpijak pada akar masalah.

Rujukan :
Syamsul Arief Rakhmadani. Menyoal Problematika Pendidikan di Indonesia. 
     Blogfam. Amril/Lili. http://www.tokohindonesia.com/majalah/22/kilas.un.html

Salamuddin. 2006. Rumus Meningkatkan Mutu Pendidikan. http://www. waspada online.com/ (11 April 2007)

Budisatyo, B. 2007 Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. http://www.suaramerdeka.com/ harian/0508/23/opi4.htm   7 Maret 2007

Kamdi, Waras. 2007. Kelas Akselerasi dan Diskriminasi Anak. http://www.kompas.com/ kompas-cetak/0408/09/Didaktika/1193374.htm 7 Maret 2007

Leksono, Budi. 2007. Mengurai Benang Kusut Di Seputar Pendidikan. http://www. edukasi.net/article. (20 April 2007)

Kamis, 19 Mei 2011

Paper 1 TACKLING EMBARRASSING ATTITUDES TO ENABLE EFL BEGINNER STUDENTS SPEAKING CONFIDENTLY IN FRONT OF THEIR PEER


TACKLING EMBARRASSING ATTITUDES
TO ENABLE EFL BEGINNER STUDENTS SPEAKING CONFIDENTLY IN FRONT OF THEIR PEER

I.       Introduction
Authorities in Indonesian are applying the new curriculum called a school based curriculum (SBC) to ensure that students’ education was relevant to real world situations. It regulates how to teach students to have the potential to stand on their own feet and compete with others both in national and international forum.
Language teaching in Indonesia, especially English language teaching, is also a significant factor to reach the policy goals. Policy reform required that English language is a tool to communicate. Communicating means understanding and expressing information, thinking, emotion and developing science, technology and culture. To communicate, someone must be able to use four skills : listening, speaking, reading and writing (Depdiknas, 2006: 277).
This paper is focused on speaking skill because it is a significant skill for students to communicate in daily life. It is an important skill and to be used widely. It is a basic skill for human beings in communication. Most people who want to learn a language require skills to use the language to communicate with others. Language is primarily spoken (Depdiknas, 2005: 39).
It is noticed that the trend of language teaching in this curriculum change from traditional to communicative purposes. Students should be motivated to practice speaking with confidence in order to further develop to higher English proficiency levels. Also the policy of teacher development in Indonesia in 2006 is to promote research in curriculum development in terms of teaching and learning techniques, area studies, textbook and material. Therefore teachers have more opportunity to take part in developing their curriculum (BSNP, 2006:15).
This might be followed with the English teacher’s ability, teaching techniques using communication strategies to help them to express ideas. The English teachers are expected to have the power to make decisions about English language learning and teaching strategy. As a result, the more the teachers are involved in practice and theory in language learning and teaching, the more they can work towards improving the English language learning and teaching strategy.
Based on my experience and observation, I have found that my 7th year Junior High School students would like to speak but they felt they lacked confidence in speaking. As a result, they think that English is very difficult for them and they become bored with learning the skills. They are also reluctant to speak English because of the fear of making mistakes and `losing face' (being embarrassed) if they mispronounce a word or use incorrect grammar.
I think it does not only happen to my 7th year Junior High School students but also most of the students in Indonesia. The research conducted by five Australian teachers concludes that most Indonesia students are passive, shy and quiet (Exley, 2005:11).
Talking about embarrassing attitude on the students, some experts has variety perspectives. Some says that it is a character brought since he/she was born. Some others says that it is the result of learning process (Tasmin, 2008). Lynne Kelly (2007), a professor of communication at the University of Hartford, said that there is evidence that shyness is an inherited trait, so some people are born with a genetic predisposition for shyness. He also said that environment comes into play. If kids have good models, such as parents, teachers, or other significant adults who model effective communication, they are less likely to develop into shy people. Furthermore, if kids are not negatively reinforced for talking, they are less likely to develop into shy people.
Without ignoring the embarrassing students are born with a genetic predisposition, the students’ environment (read teacher) is the main role in making them embarrassed. It is very important for a teacher to know theories about psychology, learning styles and language teaching. Finally the English teacher must be able to tackle embarrassing students especially in speaking.
I had to focus this paper to help tackle embarrassing attitudes to enable EFL beginner students speaking confidently in front of their peer. It discusses the importance of students’ confidence in speaking, embarrassing attitudes when speaking in front of the peer, tackling the embarrassing attitudes to enable EFL beginner students to speak confidently in front of their peer
Embarrassing attitudes including the definition and factors that influence them, the importance of students’ confidence in speaking, and tackling the embarrassing attitudes to enable EFL beginner students speaking confidently in front of their peer..
II.    Discussion
2.1 The Importance of  Students’ Confidence in Speaking
In language learning, especially speaking, students’ confidence is one of the factors to improve their learning (Kelly and Watson, as cited in Songsiri, 2007:27). Dornyei (as cited in Songsiri, 2007:28) suggested the ways to promote students’ confidence were through providing experience of success, encouraging the learners and reducing anxiety. 
Sjoberg (as cited in Songsiri, 2007:28) saw that less confident learners, or shy members may initially be gently encouraged to participate by the facilitator and introduced to a few of the other more confident members. Students’ confidence in language learning, especially speaking, is one of the main factors to drive or to inspire students to reach their goals
Based on the above opinions, it can be concluded that students’ confidence in language learning, especially speaking, is one of the main factors to drive or to inspire students to reach their goals. If teachers are always aware and reflect on their teaching and try to promote students to achieve their task, students’ language learning repertoires and confidence will be gradually increased. However, some students still have negative attitudes towards participating in the activities such as embarrassment, fear of making mistakes and confusion while participating in the activities, due to less practice.
2.1                          Embarrassing Attitudes When Speaking In Front Of The Peer 
An attitude can be defined as ‘a feeling… towards a fact or someone’s opinions and feelings’ (Webster, 2008). According to Gagne’s taxonomy of learning outcomes, attitudes relate to choosing personal action based on internal states of understanding and feeling (as cited in Songsiri, 2007:28). Learners’ performance depends on their understanding and feelings.
There are three types of attitudes that can influence communication: attitudes towards yourself, attitudes towards others, and attitudes towards communication (Kelly & Watson, as cited Songsiri, 2007:29). Here I focus to study promoting students’ confidence in speaking English. Confidence in this paper is about feeling sure of the ability to do things and be successful in language learning, especially speaking. The attitudes are one of the main factors that made students successful or not. They influenced students’ language learning (Depdiknas, 2005:62). Further, it is emphasized that ”learners who have positive attitudes learn more, but also learners who learn well acquire positive attitudes. If students have positive attitudes towards language learning, they will probably want to learn the language.
The term embarrassing means making somebody feel self-conscious: causing painful self-consciousness, uncomfortable, shame, or humiliation (Microsoft® Encarta® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation).
Mackay (1993) uses the term embarrassment to refer to the complication experienced by the teacher (and by the more proficient students) when the smooth unfolding of the lesson is hindered or obstructed by an ability on the part of one or more students to perform assigned tasks. He points out that the kind of student behavior which produce embarrassment include silence in response to a teachers’ question, responding in an articulate manner, or even in such a way as not to be understood at all. Children who have embarrassing attitudes may not respond when spoken to by a teacher or classmate. They may say little, speak very softly, and avoid eye contact. When speaking in front of peers, they are not confident.
The factors that influence the students’ embarrassing attitudes gaining confidence in speaking English are as follow (Songsiri, 2007:168-169): a) Students had negative attitudes towards language learning, especially speaking. It was caused by bitter prior experience of language learning that made them underestimate themselves. They thought that it was impossible to develop their speaking ability because they thought that they could not read or pronounce English correctly. b) Students lacked opportunity to practice. In my own situation, English language did not focus on speaking so Students still lacked the opportunity to practice speaking. c) Cultural barriers which mean some students were still fixed into their culture. The study indicates that Javanese cultural identity determines, in part, the learner characteristics of Indonesian EFL students. The teachers all reasoned that the students’ hesitancy is more to do with losing face, being embarrassed in front of groups, and in front of the new teacher. (Exley, 2007:7)
2.2      Tackling the Embarrassing Attitudes to Enable EFL Beginner Students Speaking Confidently In Front of Their Peer.
Based on the factors that influence the students’ embarrassing attitudes gaining confidence in speaking English mentioned above, there are 3 steps of a possible model for tackling the embarrassing attitudes to enable EFL beginner students speaking confidently in front of their peer. (Songsiri, 2007:176-179)

Step 1: Motivation
Motivation must be considered in terms of intrinsic, extrinsic   motivation. The teacher should know well when and why to apply intrinsic, extrinsic or a motivation in her/ his own situation because the main purpose of the paper is how to help students to reach their goal. In doing so, students’ confidence in speaking English will be increased as well. Reward students for attempts at communicating. Don't pick them apart for being wrong or unclear, but reinforce their good behaviors.
Motivation factors to encourage learners to learn English language, especially speaking, are as follows:
• Teacher : First of all the teacher must have a positive attitude towards language learning and teaching, be open-minded to accept flexible language learning and teaching and to change rapidly. Accepting this, it was easier for me to be a motivator in a variety of situations. I could change my role such as teacher, helper, knower, encourager and facilitator to motivate students to learn and finally to achieve their learning goals, especially speaking goals.
• Teaching Theories : A variety of language learning and teaching theories in terms of interactive, participatory, learner–centered paradigm,  adapting innovative language teaching can be used to plan the activities and the lessons. Learning styles theories were used in my project to observe each student while they were participating in the activities. Language learning strategies were used to help students’ reflection to reach their speaking goal at their own pace.
• Teaching Techniques: Teaching technique is one of the factors to enable students to reach speaking goals. Several new teaching techniques have to be tried. The successes or failures in using them depended on the teacher’s reflection. I found that no teaching technique was perfect for all students. Teaching techniques enable students to learn most when they understood their own learning styles. The more he kept practicing speaking, the more his linguistic competence is increased. Some students asked their friends to solve their problems. It depended on students’ reflections to help them to reach their goals.
•  Culture: The teacher must be aware of different cultural issues in terms  of being shy.
• Positive Atmosphere: The teacher must try to create a positive atmosphere in terms of caring and sharing. A positive atmosphere involved positive feedback, teacher’s smiling, encouraging and praising motivated students to participate in the activities and increasing cooperative learning as well.
•  Activities: Pair work, group work and non-threatening activities can be  used to motivate students to speak. The level of challenge of the activity should be considered. The aspects of Activity are gradually developed from a little challenge to a bigger challenge.
• Materials: Interesting materials must be found from various sources such as the internet, magazines, English newspapers, leaflets and texts. Authentic materials are applied in language teaching to motivate students to desire to speak.
Step 2: Enjoying Language Learning
After students were motivated in various ways, they enjoyed their language learning. Students are to develop their language learning and to reflect on how they could learn and reach their goals, particularly speaking.
Step 3: Positive Attitudes Towards Language Learning
Teachers need to develop the students’ positive attitudes towards language learning. They needs to encourage them to ask and negotiate while participating in the class. That was a good sign for language learners. They gradually became brave enough to take risks to find more opportunities to practice speaking. They speak without being afraid of making mistakes, observed how to speak, reflected on why and how to fail or reach speaking goals and revised to further develop positive attitudes towards speaking.
Lynne Kelly (2007:1) gives 5 tips to tackle the embarrassing attitudes to enable EFL beginner students speak confidently when speaking in front of their peers. She says as follows:
“* Provide models of effective communication behavior through demonstrations or videotape. Point out to students when good communication behaviors have occurred and why they are good behaviors. This should be done for all students. Do not single out shy students or label anyone as shy.
* Teach effective communication skills. If you want students to stand up and give speeches, you need to explain how to do that. Don't assume students know what to do.
* Provide structure for communication assignments, rather than leaving them wide open. If you assign an oral report on a topic, give students a format to follow so some of the ambiguity (hence threat) is removed.
* Reward students for attempts at communicating. Don't pick them apart for being wrong or unclear, but reinforce their good behaviors.
* When asking difficult questions or questions that have no right answers, ask the question and give everyone a few minutes to write an answer. Students are more apt to offer their answers if they have time to think about them first.”
III.  Conclusion
 The factors that influence the students’ embarrassing attitudes  gaining  confidence in speaking English are a) Students had negative attitudes towards language learning, especially speaking. b) students lacked  opportunity to practice. c) cultural barriers. To promote students’ confidence   in speaking English, the teachers needs three steps to tackle it such as motivation, enjoying language learning and positive attitudes towards language learning. Students need to be aware of their language learning styles and try to find what strategies can help them to speak and then further develop to increase their confidence in speaking English. Both students and teacher help them develop their language learning and teaching and promoting confidence in speaking English, especially tackling the embarrassing attitudes when speaking.
Attitudes towards confidence can empower students and also the teacher to reach any goal in language learning and teaching in or outside the class. Therefore, the more teachers or people around students try to encourage and help them with any technique to reach their goals at their own pace, the more students develop their confidence and develop to be autonomous and life-long learners.























REFERENCES
_____. 2005. Microsoft® Encarta® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation.

BNSP. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BNSP.

Depdiknas. 2005. Landasan Teoritis Bahasa Inggris. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas. 2006. Standar Isi, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta: Depdiknas.

Exley, Berril. 2005. Learner Characteristics of ‘Asian’ EFL Students:
             Exceptions to the ‘Norm’. In Young, Janelle, Eds. Proceedings Pleasure Passion Provocation. Joint National Conference AATE & ALEA 2005, pages 1-16, Gold Coast.

Jasmin, Martina Rini S. 2002. Anak Pemalu. (http://www.e-psikologi.com/lain-lain/ January 26, 2008).

Kelly, Lynne. 2000. How can Teacher Help Shy Students?.
            (http://www.education-world.com/a_curr/curr267.shtml, January 25, 2008).

Mackay, Ronald. 1993. Embarrassment and Hygiene the Classroom. ELT Journal Volume 47 Number 1 January 1993, pages 32-39.

Songsiri, Montha. 2007. An Action Research Study of Promoting Students’ Confidence in Speaking English. Tonburi, Thailand: King Mongkut’ University of  Technology.                                           
Webster, Merriam. 2008. Webster-Merriam Online Dictionary. from http://www.merriam-webster.com/dictionary/embarrass (May 18, 2008.)

Minggu, 15 Mei 2011

Bimbingan Konseling


KEINTIMAN (INTIMACY)
Salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian di masa remaja adalah adanya perubahan dalam berinteraksi dengan seseorang. Interaksi pribadi dengan orang lain di masa-masa ini umumnya lebih dekat, lebih pribadi dan lebih emosional. Dengan kata lain interaksi dengan orang lain di masa remaja akan lebih intim.
Konsep intim dalam penelitian tentang masa remaja di sini tidak berkaitan dengan hubungan seks, melainkan pada ikatan emosional antara dua orang yang saling perhatian, keinginan untuk dekat secara pribadi dan keinginan untuk berbagi kesenangan dan kegiatan.
KEINTIMAN SEBAGAI ISU MASA REMAJA
Keintiman adalah sesuatu yang dibutuhkan sepanjang hidup. Weiss (1974) mengatakan bahwa teman memberi dorongan ketika perasaan kita melemah dan membantu ketika kita butuh serta menemani kita dalam berbagai kegiatan. Hartup (1992), Myers, Lindenthal & Pepper (1975) menyatakan bahwa jika seseorang tidak mempunyai teman di masa anak-anak berarti dia memiliki masalah sosial dan psikologi, tetapi ketika di masa remaja dia memiliki satu saja teman dapat menguntungkan bagi perkembangan sosial dan psikologisnya. Dengan kata lain keintiman merupakan sesuatu yang penting bagi semua orang untuk segala usia.
Keintiman adalah elemen emosi, yang di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan. Di masa anak-anak, hubungan persahabatan berorientasi pada kegiatan fisik saja misalkan bermain bersama. Tetapi hubungan persahabatan di masa remaja memiliki dasar emosi yang kuat yang membanguna ikatan batin antara dua orang yang saling memperhatikan dan saling memahami (Newcomb & Bagwell, 1995).
Alasan lain akan pentingnya keintiman di masa remaja adalah adanya perubahan hubungan sosial yang alami di masa remaja. Di awal remaja mulai tumbuh kesadaran tentang pentingnya teman sebaya, di usia remaja pertengahan dan remaja lanjut tumbuh kesadaran akan pentingnya pasangan lawan jenis (Furman, Brown & Feiring, 1999).
Beberapa teori menjelaskan terjadinya perubahan hubungan di masa remaja. Berndt (1982), Savin-William & Berndt (1990) membuktikan adanya korelasi yang signifikan antara perkembangan keintiman dengan perubahan sosial, kognitif dan biologis di masa remaja.
Kandel & Lesser (1972) menyimpulkan perubahan hubungan di masa remaja adalah karena pubertas dan mulai adanya rangsangan kebutuhan seks. Lebih lanjut dijelaskan bahwa remaja merasa tidak nyaman berbicara tentang seks dengan orang tuanya, sehingga mereka mencari tahu tentang seks dengan orang lain. Akan tetapi kedewasaan mungkin juga dapat mendorong hubungan antara remaja dan orang tua lebih intim apabila remaja tersebut minta nasihat dan petunjuk dari ibu bapaknya. 
Hill & Palmquist (1978) memandang perubahan hubungan di masa remaja dari sisi perubahan sosial kognitif. Mereka mengatakan bahwa perkembangan sosial kognitif di masa remaja terpantul dari konsepsi hubungan sosial di masa remaja yang lebih komplek dan adanya perkembangan komunikasi antar pribadi.
TEORI TENTANG KEINTIMAN DI MASA REMAJA
Ada 3 perspektif teori yang sangat penting tentang keintiman di masa remaja yakni dari Harry Stack Sulivan, Erik Erikson dan teori Attachment.
Teori Sullivan tentang Perkembangan Hubungan Interpersonal
Sullivan memandang perkembangan hubungan interpersonal dipengarui oleh kebutuhan berdasarkan perkembangan biologis seseorang yakni:
1.      Masa Bayi (infancy)  usia 0 sampai 2-3 tahun membutuhkan bantuan orang lain dan kasih saying dari ibunya.
2.      Masa Anak awal (early childhood) 2-3 tahun sampai 6-7 tahun membutuhkna  teman peran serta orang yang lebih dewasa dalam bermain.
3.      Masa Anak pertengahan (middle childhood) 6-7 tahun sampai 8-10 tahun  membutuhkan teman sebaya untuk bermain dan diterima di masyarakat.
4.      Masa Praremaja (preadolescence) usia 8-10 tahun sampai 12-14 tahun membutuhkan keintiman dengan teman sebaya.                                         
5.      Masa Remaja awal (early adolescence) usia 12-14 tahun sampai 17-18 tahun membutuhkan kontak seks dan keintiman dengan dengan lawan jenisnya.
6.      Masa Remaja lanjut (late adolescene) usia 17-18 tahun sampai dewasa membutuhkan pencapaian manusia seutuhnya yang diterima di masyarakat.
Dari teori tersebut menurut sulivan kebutuhan akan keintiman dimulai dari masa praremaja dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lawan jenisnya dan di masa remaja awal dan lanjut semakin adanya rangsangan seks dan kerinduan kebutuhan akan keintiman berujung pada hubungan percintaan dengan pasangannya. Menurut Sulivan tantangan utama di masa remaja adalah menggabungkan kebutuhan akan keintiman dengan kebutuhan akan hubungan seks.
Teori Erikson Tentang Keintiman
Teori Erikson menyatakan bahwa perkembangan seseorang di masa remaja berputar pada two krisis psikososial yakni  indentity crisis vs identity confusion (krisis identitas vs kekacauan identitas) dan crisis of intimacy vs isolation (keintiman vs isolasi).
Krisis identitas dimaknai bahwa masa remaja adalah masa dimana remaja mulai merasakan suatu perasaan identitasnya sendiri, merasa unik, siap untuk berperan dalam masyarakat. Mulai menyadari sifat-sifat yang melekat pada dirinya sendiri seperti kesukaan dan ketidaksukaannya, tujuan yang dikejar di masa datang, kekuatan dan hasrat untuk mengontrol nasibnya sendiri sedangkan kekacauan identitas merupakan masa peralihan dari anak ke dewasa. Menjadikan kadang remaja berada pada kondisi kekacauan identitas. Mereka menjadi hampa, terisolasi, cemas dan bimbang. Mereka menjadi kacau, tingkah lakunya tidak konsisten. Ingin masuk dunia kehidupan dewasa tapi masyarakat menganggap belum mampu dan mereka merasa sudah bukan anak-anak lagi. Terjadi suatu kekacauan. Jika tidak terselesaikan anak akan berada pada kondisi krisis identitas yang akan mengembangkan identitas negatif pada dirinya yaitu dirinya hanya memiliki sifat yang potensial buruk atau tidak berharga.
Sedangkan krisis keintiman mengandung arti bahwa remaja siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain, mendambakan hubungan akrab dengan lawan jenis dalam percintaan. Mengembangkan persaudaran, menyiapkan daya untuk membina komitmen dan siap berkorban. Kebalikan dari keintiman adalah muncul isolasi, kecenderungan untuk menghindari hubungan karena tidak mau terlibat atau melibatkan diri dalam keintiman.
Dari dua pandangan tersebut menurut para ahli seakan bersaing namun hasil penelitian membukstikan bahwa antar pengembangan identitas dan pengembangan keintiman sejajar saling melengkapi.
Teori Attachment (Kelibatan) tentang Masa remaja
Menurut teori attachment keintiman di masa remaja berhubungan erat dengan masa lalu individu tersebut khususnya di waktu masa balita. Terdapat bukti yang kuat bahwa seorang yang memiliki ikatan/attachment yang kuat dengan pengasuhnya di waktu balita akan lebih mampu melakukan persahabatan dengan teman sebaya di waktu kecil dan terbukti pula akan memudahkan seseorang dalam melakukan keintiman di masa remaja dan dewasa. Dan sebaliknya pula terbukti bahwa seseorang yang dengan mudah melakukan keintiman dengan orang lain di masa remaja tidak dapat terpisahkan dengan hasil persahaba tan di masa kecil.
PERKEMBANGAN KEINTIMAN DI MASA REMAJA
Perubahan Alami dalam Persahabatan
Bernth (1981) membuktikan bahwa di masa anak-anak konsep persahabatan selalu berhubungan dengan bermain. Teman yang baik adalah teman yang menemani dalam bermain. Keintiman yang di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan muncul di masa remaja awal sampai dewasa.
Berndt & Perry (1990), McNelles & Connolly (1999) mengindikasikan perubahan pandangan remaja tentang keiintiman terjadi pada usia sekita 14 tahun. Parker, low dan Wargo (1999) menyebutkan bahwa remaja perempuan antara 13 tahun sampai dengan 15 tahun lebih cemburuan dengan temannya dan ini berakibat timbulnya konflik antara teman.
Laursen (1995,1996), Rafedi (1997) Whitesell & Harter (1996) mengatakan terdapat perbedaan  konflik antara teman dekat dan teman biasa. Lebih lanjut mereka menjelaskan bahwa konflik antara teman dekat biasanya lebih emosional/menyakitkan.namun meningkatkan usaha untuk memperbaiki hubungan di masa yang akan datang. Berbeda dengan konflik bukan teman dekat. Ada pula perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menyikapi konflik dengan teman dekat. Anak laki-laki biasanya dapat menyelesaikannya singkat dan berkaitan dengan permainan. Anak perempuan biasanya lebih lama dan dan umumnya karena kecemburuan.
Perubahan dalam Menunjukkan Keintiman
Diaz & Berndt (1982), Jones & Dembo (1989) membuktikan bahwa remaja lebih berkepribadian di bandingkan waktu masih anak-anak. Mereka menjelaskan bahwa seoran di masa remaja lebih tanggap, sedikit mengatur, dan lebih toleran dengan dengan teman. Dibandingkan dengan anak kecil, seorang remaja lebih memahami bagaimana perasaan teman ketika mereka mempunyai masalah.
Perubahan dalam Sasaran Keintiman
Menurut Sullivan, masa remaja adalah masa dimana remaja berubahnya sasaran dalam perilaku keintiman. Di masa praremaja dan remaja awal orang tua tergantikan oleh teman sebaya, selanjutnya di masa akhir remaja teman sebaya tergantikan oleh pasangan lawan jenisnya.
·         Orang Tua dan Teman Sebaya sebagai Sasaran Keintiman
Penelitian tentang keintiman di masa remaja di Amerika membuktikan bahwa di masa remaja, hubungan seseorang dengan teman baik dan pacarnya lebih intim dibandingkan dengan ibu maupun bapaknya (Beaumont, 1996; Hunter & Youniss, 1982; Rice & Mulkeen, 1995). Kedua, walaupun ada penurunan keintiman antara orang tua dan remaja, tetapi grafiknya bertambah lagi menjelang dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua masih memegang peranan penting dalam hubungan dengan anaknya. Blyth, Hill dan Thiel (1982) memberi angket kepada 2.500 siswa berusia 7-14 tahun  untuk menanyakan kepada mereka siapa orang yang paling perhatian, sering memberi nasihat dan selalu melakukan sesuatu bersama. 93% menjawab orang tua mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa orang tua masih dianggap orang yang dekat dengan mereka.
Dari penelitian tersebut secara  umum dapat digambarkan bahwa keintiman remaja antara orang tua dan teman sebaya tidak bisa dibandingkan, meskipun secara jelas bahwa remaja lebih memilih teman sebayanya. Peran orang tua tetap penting dan berpengaruh. Bahkan remaja yang dekat dengan orang tuanya mempunyai dampak kesehatan psikologi yang lebih positif dibandingkan dengan remaja yang hanya dekat dengan teman baiknya (Greenberg, Siegel, & Leitch, 1983). Penelitian lain juga membuktikan bahwa kualitas hubungan di masa remaja dengan orang tua mempunyai pengaruh terhadap hubungan dengan teman dekatnya. (Cooper, carlson, Keller, Koch, & Spradling, 1993; Gold & Yanof, 1985).
·         Sasaran Lain dalam Keintiman
Sasaran lain keintiman di masa remaja adalah saudara kandung, saudara di luar anggota keluarga, guru dan pelatih. Penelitian Blyth dkk (1982) membuktikan 75% remaja  memilih saudara kandung sebagai sahabat intim. Mereka berpendapat saudara kandung sama tingkatannya dengan teman baik. Buhrmester & Furman (1997) mengatakan bahwa remaja lebih banyak bertengkar dengan saudara kandungnya dibandingkan dengan teman dekatnnya dan hanya bisa diselesaikan orang tuanya.
Ketika anak-anak ditanya orang-orang penting terdekatnya 80% menjawab salah satu dari kakek nenek, bibi, paman dan sepupunya (Blyth, Hill & Thiel, 1982). Tetapi remaja jarang berhubungan lagi dengan mereka karena tempat tinggal yang jauh dengan mereka (Lewis, 1991). Namun tidak dipungkiri mereka bisa menjadi tempat keintiman khususnya bagi mereka yang kedua orantuanya bercerai (Clingempeel, Colyar, Brand & hetherington, 1992).
Beberapa penelitian juga telah membuktikan hubungan antara remaja dengan orang di luar keluarganya baik di sekolah, tempat kerja  maupun tetangganya. Dan ini juga memainkan peran yang signifikan dalam kehidupan remaja (Greenberger, Chen & beam, 1998; Munch, Liang & DeSecottier, 1996). Persahabatan yang dekat berkembang secara alami antara para remaja dengan gurunya atau supervisornya melalui suatu organisasi/institusi. Ini menolong mereka mengatasi stres. Rhodes, Contreras & Mangelsdorf, 1994 dalam laporan penelitiannya menyimpulkan bahwa remaja yang memiliki mentor mempunyai kesehatan mental yang baik dibandingkan dengan mereka yang tidak punya.
·         Persahabatan dengan Teman lawan Jenis
Persahabatan intim dengan teman lawan jenis akan menjadi lebih penting ketika remaja menginjak dewasa. (Hallinan, 1981). Ini mengandung arti bahwa gender (perbedaan jenis kelamin) menjadi penentu utama dan penting dalam berhubungan selama praremaja, dan juga memainkan peranan yang lebih kuat dibandingkan latar belakang ekonomi dan ras. (Schofield, 1981). Sebenarnya usia juga berpengaruh dalam persahabatan tetapi ini susah diteliti.
Richard dkk, (1998) menyatakan bahwa dari keintiman berhubungan dengan lawan jenisnya mereka mempunyai fantasi tentang lawan jenisnya sampai akhirnya terealisasi dengan meningkatnya usia. Ini merupakan langkah awal menuju ke pengalaman romantis mereka di masa datang.
Montmogory & Sorell (1998) menambahkan bahwa remaja yang memiliki teman lawan jenis dari pada teman sesama jenis cenderung lebih cepat memasuki ke dalam hubungan romantis. Namun tidak semua hubungan antara laki-laki dan perempuan di masa remaja menjadi hubungan romantis. Persahabatan dengan lawan jenisnya adalah suatu yang wajar dialami para remaja. (Kuttler, La Greca & Prinstein, 1999).
Penelitian selanjutnya menyebutkan ada bukti bahwa keintiman hubungan dengan lawan jenis lebih menguntungkan remaja laki-laki dibandingkan dengan remaja perempuan (Bukowski dkk, 1999). Hal ini disebabkan dapat menutupi kekurangan remaja tersebut atas sedikitnya teman sejenis.
KENCAN DAN HUBUNGAN ROMANTIS
Untuk membahas tentang hubungan romantis di masa remaja kita kembali ke teori Sulivan yang menyatakan bahwa melakukan keintiman hubungan dengan teman lawan jenis adalah tugas utama dalam perkembangan seseorang di masa remaja. Keintiman persahabatan dengan lawan di masa remaja membawanya ke dalam hubungan romantis.
Di masyarakat Amerika, remaja wanita lebih matang dibandingkan dengan remaja pria. Mereka lebih cepat intim dan lebih dekat secara emosional. Berkaitan dengan hubungan sex, wanita jauh lebih menghayati arti cinta, lebih terlibat secara emosional dan dan jauh lebih intim (Shulman & Scharf, 2000). Dengan alasan in para peneliti menyarankan bahwa wanita seharusnya mengajari pria untuk lebih terbuka, berperasaan dan perhatian.
Berkencan (dating) mempunyai arti yang bermacam-macam. Berkencan bisa diartikan menghabiskan waktu dengan pasangan dalam kelompok atau berbincang dengan pasangan lawan jenisnya untuk memantapkan sebelum menuju ke pernikahan. Berkencan dapat berfungsi mengembangkan keintiman untuk saling mengenal satu dengan yang lain.
Pemantapan hubungan menuju pernikahan melalui 4 fase (Brown, 1999; Conolly & Golbergg, 1999):
1.      Fase kegairahan
      Ketertarikan pada pandangan fisik seseorang.
2.      Fase status
      Pemantapan status terhadap lingkungan sekitar
3.      Fase Intim
      Memantapkan kedekatan, hubungan emosional dan kehangatan
4.      fase Pengikatan
      Komitmen untuk melangkah ke depan.
PERKEMBANGAN KEINTIMAN DAN PSIKOSOSIAL REMAJA
Remaja yang mempunyai persahabatan yang intim umumnya mempunyai kesehatan mental dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki keintiman. Teman dekat dapat digunakan mencurahkan isi hati tentang harapan-harapan di masa depan. Teman dekat juga dapat memberi nasihat dan dorongan-dorongan dalam kehidupan. Namun dibalik itu semua teman dekat juga membuat kita tidak nyaman, muncul konflik, kecemburuan dan ketidakpercayaan. Ini semua terjadi karena tidak semua persahabatan adalah persahabatan yang baik.

KOMENTAR
Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikis, yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja apabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat, bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal.
Salah satu problem yang dihadapi remaja adalah problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial dimana dalam masa remaja membutuhkan keintiman. Keintiman di sini adalah elemen emosi, yang di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan hubungan dengan teman sebaya, teman lawan jenis maupun dengan keluarga atau yang lain..
Di awal masa remaja kebutuhan akan keintiman ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia terisolasi (isolated) dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya.
Problema perilaku sosial di awal remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya, namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan orang dewasa lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja, khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang membingungkan (ambivalen), di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua, terutama secara ekonomis.
Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi, hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada, jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas maupun identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.
Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. Dalam hal ini, peranan orang tua, guru/sekolah, serta masyarakat sangat diharapkan.
Pada masa remaja pertengahan dan remaja akhir juga akan terlihat jelas berbagai perubahan yang menyangkut aspek psikis, sosial dan prilakunya. Pada masa ini mulai muncul kebutuhan akan privasi, dan ekspresi erotik. Ditandai dengan mulai tumbuh ketertarikan pada lawan jenisnya dan keinginan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan lawan jenisnya.  Remaja mulai mengenali cinta melalui hubungan yang mengandung komponen keintiman. Mulai dari tahap perkenalan, lalu menjadi teman akrab, lalu sahabat. Pada tahap persahabatan, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis kelamin, diharapkan berkembang perasaan hangat, kedekatan dan emosi-emosi lain yang lebih kaya. Dalam hubungan antar jenis,  persahabatan dapat berkembang dengan komitmen pacaran. Pada tahap pacaran ini keintiman dapat muncul komponen gairah dengan proporsi yang relatif rendah.
Pada pasangan yang telah dewasa, bila faktor-faktor emosional dan sosial telah dinilai siap, maka hubungan itu dapat dilanjutkan dengan membuat komitmen perkawinan. Dalam perkawinan, diharapkan ketiga komponen ini tetap hadir dan sama kuatnya.
Sebagai orang tua dan guru yang mendidik dan mengasuh anaknya sedemikian rupa, jangan pernah berhenti dari upaya pembinaan diri anak. Satu hal yang penting, jangan pernah menutup komunikasi dengan anak, namun bukalah jembatan komunikasi tersebut sebesar-besarnya. Walaupun sebagian besar anak kini pada kelompok bermainnya, namun kita jangan pernah menutup pintu untuknya saat ia kembali kepada kita.
Saat ini, posisikan diri kita sebagai temannya. Hiburlah ia dan berikan jalan keluar yang solutif untuknya dan tidak menggurui. Bila kita ingin memberinya nasehat, maka sampaikan dengan bahasa teman, bukan bahasa orangtua.
* RINGKASAN BAB 10 Buku “Adolescence” Karangan Laurence Steinberg
   (2002)